Kamis, 14 November 2019

Oicuy

Apa itu oicuy?

Bodor hayu, serius boleh, sedih okeh, percintaan bisa, bahagia sikat, kegalauan geus teu aneh, kejombloan aing pisan, videography saeutik lah, selebgram lain, youtubers jauh pisan, unfaedah lolobana.

Mencoba mengolah kata sederhana menjadi bermakna, minimal keur diri sorangan.
Berusaha membuat orang lain percaya diri, walau kadang diri sorangan tara percaya diri.
Berupaya menghibur dengan karya, karena mere duit mah teu bisa.
Bukan tempat mengatasi masalah tanpa masalah, karena ini lain pegadaian.
Membuat orang lain tertawa, sahenteuna ngan senyum2 nyerengeh oge bae.

Oicuy adalah karya, karya orang biasa.
Kenapa bangga? Karena karya sekecil apapun butuh pengakuan. *Kitu sih ceuk film mah
Hina kami? Mangga.

Suka ikuti, teu suka silahkan ngopi.

Kamis, 27 September 2018

Ikhlas Dalam Perih

Masih ada rasa perih di hati yang membias terang sampai aku sendiri malu untuk mengakuinya,
Tercekat saat aku menyadari itu sudah mengerak di hati,
Malu aku menyadarinya…
Tapi seperti menjerat kuat dan berkarat yang membuat hatiku tak nyaman
Melangit tanpa kendala bersama dengan keangkuhanku
Tak mampu aku mengendalikan amarah di hati ini
Sampai aku merasa ini membelenggu jalan hidup
Aku harus menjawab risau yang muncul di balik hati kecil...
Ikhlas. Satu kata yang belum bisa aku capai
Lelah saat semua rasa sakit ini menghantui sendi-sendi hidupku sampai melekat erat
Tak mudah aku melepaskan semua ini, belenggu sakit hati
Sejauh aku pergi dia akan mengikutiku tanpa lelah
Kini kusadari lewat suara-suara hatiku, aku perlu menjawab risauku
Aku harus melepaskan semua kerak hatiku, sakit yang menjalar
Harus hilang sampai aku bisa menjabarkan rasa ikhlas di hati
Akan kusapa hari-hari dengan balutan hati yang putih bersih...
Akan kutulis lembaran baru. Agar aku lepas dari belengggu rasa sakit ini
Pergilah dari hati ini agar aku bisa membingkai hati ini dengan kebaikan
Sampai rasa sakit ini tak lagi menyapa di saat-saat aku lelah
Hanya kesadaran yang hakiki...
Merayap perlahan
Sampai aku terlepas dari semua rasa sakit
Untuk kembali padaNya…
MemelukNya dalam doa-doa panjangku

KAU CAHAYA

Kau cahaya,
Aku tunggu kau,
Dari pekat malam,
Aku masih menunggu,
Dari dinginnya malam,
Aku masih menunggu,
Kau cahaya,
Akhirnya tiba juga,
Aku bahagia,
Akhirnya kau tiba juga,
Merubah semuanya menjadi terang,
Akhirnya kau tiba juga,
Kau cahaya,
Terangi aku,
Terangi langkahku,
Kau cahaya,
Jangan bosan,
Untuk menyinari kehidupan,
Untukku dan semua orang

2017
#poeoisi

GELAP

Coba pejamkan sebentar saja kita punya mata,
Apa yang kita lihat?
Gelap, iya gelap.
Lalu jika gelap untuk apa lagi semua ini?
Jika dunia saja sudah tidak bisa kita lihat,
Untuk apa lagi semua ini?
Menawannya si tampan,
Menariknya si cantik,
Untuk apa? Gelap sudah kan
Mewahnya rumah,
Mahalnya kendaraan,
Bergelimangnya harta,
Serta indahnya apa yang dipakai,
Untuk apa? Toh Gelap kan
Lalu apalagi nilainya semua ini?
Ternyata hidup tidak selalu tentang apa yang bisa kita lihat,
Terkadang apa yang kita lihat tidak sesuai dengan realita dibelakangnya,
Faktanya, yang kita lihat terkadang justru menipu kita,
Mata telanjang kita terkadang tidak cukup untuk menelanjangi kejujuran hati,
Karena hidup tidak selalu tentang apa yang bisa kita lihat,
Nilai adalah apa yang ada dibalik hati kita, bukan yang ada dibalik penglihatan kita,
Karena mata telanjang terkadang tidak bisa menelanjangi hati kita.

September, 2017
#PoeoisiOi

Rabu, 16 November 2016

'Adu Muncang': Perenungan Kebudayaan

PERENUNGAN KEBUDAYAAN

Kenapa harus muncang? Pernahkah Anda mendengar permainan 'Adu Muncang'? Jika Anda pernah mendengar bahkan pernah mencoba saya yakin anda pasti setuju dengan saya.

Permainan 'Adu Muncang' atau kemiri biasa digemari oleh kalangan remaja bahkan pria dewasa pun tak jarang menggemarinya.

Untuk bisa bermain 'Adu Muncang' dibutuhkan dua Muncang (Kemiri) yang sama-sama sudah diurus sedemikian rupa, setelah itu kedua muncang itu di tempatkan di satu titik dimana diatasnya diganjel oleh bambu yang sudah diatur sedemikian rupa, setelah semuanya pas barulah muncang itu bisa diadu dengan cara dipukul menggunakan kayu, siapa yang muncangnya hancur dialah yang kalah, begitulah kira-kira sedikit penjelasan tentang permainan 'Adu Muncang'. Ada yang menarik perhatian saya ketika memperhatikan permainan 'Adu Muncang', apalagi setelah ada salah satu dari kedua muncang yang diadu kalah.

Dalam permainan 'Adu Muncang' untuk membuat muncang kita kuat itu dengan cara 'dipale', yaitu si muncang digosok-gosok menggunakan jari atau menggunakan buah kemiri atau muncang yang sudah kalah tadi.

Saya mulai membayangkan ketika ada salah satu muncang yang kalah, muncang itu bukannya iri kepada yang menang justru muncang itu malah bisa membuat muncang yang mengalahkannya menjadi kuat, dengan cara ia memberikan buah yang dikandungnya untuk digosok-gosokan kepada muncang yang mengalahkannya.

Menurut saya ini adalah suatu gambaran bahwa hidup sejatinya selalu ada pertarungan dan persaingan, namun permainan 'Adu Muncang' mengajarkan saya bahwa ketika saya kalah dalam persaingan maka saya harus bisa menerima kekalahan itu dan harus mwndukung sepenuh hati bahkan harus bisa berkontribusi untuk sesuatu yang sedang diperjuangkan.

Permainan 'Adu Muncang' ini adalah kebudayaan lokal. Biarlah kebudayaan tetap menjadi kebudayaan supaya bisa menjadi kebanggaan.

Jika saya boleh berpendapat,, lebih baik kalian gunakan politik 'Adu Muncang' daripada politik 'Adu Domba'. Oicuy
Hatur Nuhun.
.
.
#ARTikel #CatatanOi #Note #Catatan #adumuncang #kebudayaan #kebudayaanlokal #jawabarat



Minggu, 31 Januari 2016

Balong

Bismillah.

Alhamdulillah, Maha Benar Allah dengan segala apa yg telah dijanjikan-Nya. Allah telah mengingatkan kepada kita semua bahwa waktu di dunia itu sangat singkat. Sekarang benar saya rasakan singkatnya waktu itu, sekarang kalian yang masih dan akan selalu menjadi bagian keluarga saya akan menghadapi program yg saya sebut "pelatihan bermasyarakat."

Singkat saja, masih terngiang di telinga ini ketika ustad Dede memberikan bekal yg sederhana tapi sangat bermakna, beliau mengatakan "PKKJ mah siga asup kana balong." Selintas kata-kata itu terdengar lucu, tapi ketika lita tafsirkan ternyata memang benar banyak maknanya.

Kalian yg saat ini akan menghadapi PKKJ, pesan saya tidak usah khawatir atau takut kalian tidak bisa atau apa pun yg menghantui pikiran kalian saat ini. Benar apa yg diucapkan ustad dede, PKKJ cuma masuk ke kolam kecil kok, bukan lautan. Tidak pernah terdengar cerita ada orang yang tenggelam di kolam kecil, sekalipun tenggelam tidak akan membuatmu meninggal. Tapi ingat, yg namanya kolam kecil paling isinya ikan2 kecil, tidak akan ada mutiara di dalam kolam. Ambil saja apa yg kiranya bermanfaat bagi kalian di kolam itu.

Tenang kalian saat ini tidak akan langsung mengarungi lautan kok, kolam itu hanya miniatur kecil dari luasnya lautan. Nanti setelah kalian bisa menaklukan kolam baru kalian harus bisa taklukan lautan luas. Lautan itu hanya akan terasa keindahan yg mahal ketika kalian mau menyelami lautan itu hingga ke dasarnya. Jika kalian sanggup maka mutiara sekalipun kalian akan dapatkan, tapi jika kalian tidak sanggup maka kalian yg akan meninggal.

Selamat berjuang kawan-kawan, jangan pernah takut salah, kalian tidak akan pernah tenggelam kok. Bawa pulang apa yang bermanfaat bagi kalian, dan beri mereka apa yang menurut kalian bermanfaat bagi mereka.

Selamat bersenang-senang di dalam kolam :-D


Hatur nuhun.

Selasa, 20 Oktober 2015

Aku.dan.Sang Ibunda

Aku dan Sang Ibunda

Nak, Bunda ingin bertanya padamu... Bolehkah Bunda bertanya padamu? Boleh Bunda, sangat boleh... Tapi pertanyaan ini tidak hanya satu nak melainkan banyak dan sangat banyak... Boleh Bunda, Bunda boleh tanyakan apa saja kepadaku, anakmu ini... Tapi pertanyaan ini akan sedikit membuatmu sakit hati nak bahkan Bunda pikir engkau takkan mau menjawab pertanyaan ini nak... Tidak Bunda, selain Tuhan, Bunda berhak mengetahui apa saja tentang anakmu ini... Apakah yakin kamu nak? Yakin Bunda, sangat yakin... Yasudah lah kalo kamu yakin Bunda akan coba bertanya kepadamu nak... Silahkan Bunda...

Nak, bagaimana kabarmu nak? Apakah kamu baik2 saja nak? Baik Bunda, sangat baik keadaanku...

Nak, sehatkah fisikmu saat ini nak? Sehat Bunda, sangat sehat..

Nak, apa yang sedang memenuhi pikiranmu sekarang nak? Banyak Bunda, Uang dan Membentuk sebuah keluarga salah satunya bunda...

Nak, selama ini apa yang kau makan nak? Masihkah sama apa yang kau makan dengan orang lain? Yang saya makan selama ini masih sama Bunda dengan orang lain, anakmu ini makan nasi dan lauk pauk yang biasa orang lain makan...

Nak, apakah kamu sudah mempunyai seseorang yang akan mendampingi hidupmu nanti? Kalau sudah wanita seperti apa dia? Dan apakah kamu yakin kepadanya? Sudah Bunda, saya sudah temukan itu, dia adalah wanita shalehah (insyaAllah) dia mampu menjaga diri dan menghormati laki-laki, yakin Bunda, saya yakin sekai...

Nak, sudahkah kau temukan kebahagiaan dalam hidupmu sekarang ini? Belum Bunda, saya tidak bisa merasakan kebahagiaan sebelum saya sukses dan bisa membanggakan engkau Bunda...

Nak, sudahkah kau bisa menikmati apa yang kau miliki sekarang? Belum bunda, masih banyak penderitaan yang saya alami, apa yang bisa dinikmati dari sebuah penderitaan terlalu banyak sakit dalam hidup saya Bunda...

Nak, bagaimana menurutmu keadaan dunia saat ini? Khususnya di Tanah Indonesia ini nak? Keadaan Dunia menurutku sudah kacau Bunda, perang dimana-dimana kedamaian seolah cerita fiktif belaka, dan di Tanah ini saya sudah merasa tak seperti berada di Tanah Indonesia Bunda...

Nak, siapkah jika engkau harus mati esok? Lalu bekal apa yang sudah kau persiapkan untuk perjalanan panjangmu nanti? Sejujurnya saya belum siap Bunda, karena saya belum punya bekal apa-apa untuk perjalanan panjangku nanti...

Nak, apa yang paling kau sesalkan di dunia ini? Sebelum saya menjawab pertanyaan ini saya meminta maaf terlebih dahulu kepadamu Bunda, karena yang paling ku sesalkan di dunia ini adalah kembali melalaikan apa yang telah menjadi kewajibab saya kepada Allah Bunda, saya tahu Bunda kecewa karena bagian ini yang selalu Bunda pesankan kepadaku sebelum saya pergi...

Nak, sebenarnya apa yang engkau cita-citakan selama ini? Dan apa harapanmu buat esok hari jika engkau masih diberi kesempatan untuk hidup? Yang saya cita-citakan selama ini hanya ingin menjadi seseorang yang lebih baik dari hari lalu, dan berguna untuk orang lain terutama untukmu Bunda. Harapanku adalah bisa kembali ke jalan yang dulu telah membuat saya sedikit merasakan indahnya menjadi manusia Bunda...

Cukup nak, cukup segitu saja pertanyaan dari Bunda... Apa maksud dari semua pertanyaan tadi Bunda, anakmu ini bingung akan pertanyaan-pertanyaanmu Bunda... Apakah Bunda perlu menjelaskan semuanya nak? Iya perlu Bunda, sangat perlu supaya tidak ada salah paham diantara kita... Baiklah kalau begitu nak akan Bunda jelaskan...

Benarkah jika keadaanmu baik-baik saja nak? Iyaa Bunda benar... Lalu kenapa jika kamu baik-baik saja kau tidak pernah berpikir bagaimana jika keadaanmu tiba-tiba memburuk nak?

Benarkah jika fisikmu sehat-sehat saja nak? Iyaa Bunda benar, lalu bagaimana dengan kondisi batinmu? Bukankah selama ini yang kau jalani bamyak yang berbenturan dengan nuranimu? Kenapa semua itu masih kau jalani nak? Kalau kau hanya berpikir bahwa yang perlu kau jaga kesehatan itu hanya fisikmu maka kau salah besar nak, karena batinmu akan mempengaruhi keadaan fisikmu, jika batinmu baik-baik saja maka fisikmu akan lebih baik...

Lalu apa benar yang ada dipikiranmu hanya harta, tahta, wanita seperti yang kebanyakan orang pikirkan nak? Iyaa Bunda, benar... Terlalu picik kamu nak, masih banyak yang harus kau pikirkan selain dari yang kau sebutkan tadi, bukankah yang seharusnya yang memenuhi pikranmu adalah bagaimana keadaan masyarakat saat ini? Bukankah kau seorang pemuda nak? Bukankah nasib sebuah bangsa itu tergantung bagaimana pemudanya saat ini? Jika oemuda sepertimu hanya memikirkan harta tahta wanita, lalu siapa yang akan membuat bangsa ini menjadi lebih baik nak? Lalu siapa yang akan menggantikan para pemimpin-pemimpin yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri nak?

Anakku, benarkah jika yang kau makan itu sama dengan orang lain nak? Benar Bunda, masih sama apa yang saya makan dengan apa yang orang lain makan Bunda... Bohong, kamu bohong nak... Kenapa bohong Bunda? Iya bohong kamu nak, jika iya sama apa yang kau makan dengan apa yang orang lain makan, apakah pernah kamu memakan rumput? Apakah pernah kamu meminum air selokan yang kotor? Ingat nak, tidak semua orang bisa memakan nasi dan air mineral yang jernih, banyak orang-orang diluar sana yang kelaparan dan memakan apa saja yang mereka temukan.

Benarkah kau sudah yakin akan calon pendampingmu saat ini? Yakin Bunda, saya yakin... Bohong kamu nak, jika kamu hanya melihat dia dari kecantikannya maka keyakinanmu terhadapnya akan berkurang jika dia menua, jika kamu hanya melihat kekayaannya maka keyakinanmu akan luntur jika dia jatuh miskin. Yang harus kau lakukan adalah jika dia shaleha maka jadilah kamu laki-laki yang sholeh, jika dia cerdas maka kamu harus cerdas pula, jika dia menghormati laki-laki maka kau harus pandai menghargai wanita. Karena menurut agama kita si baik akan bertemu dengan si baik, si jelek akan bertemu dengan si jelek.

Benarkah kau belum merasakan bahagia nak? Benar Bunda... Kenapa nak kenapa? Bukankah mereka yang merasakan kelaparan kepanasan atau bahkan kehujanan masih bisa merasakan kebahagiaan? Kenapa kau belum bahagia nak? Bukankah dia yang berjuang di jalan Allah walaupun harus menerima berbagai macam ujian di Dunia ini masih merasakan kebahagiaan? Kenapa kau masih belum bisa merasakan kebahagiaan nak? Jika kau hanya mengukur bahwa kebahagiaan itu bisa kau rasakan setelah kau sukses dan membahagiakan Bunda, lalu apa sukses itu nak? Bunda bahagia jika kau meraih kesuksesan itu dibarengi proses yang amat sangat sehingga kau merasakan kepedihan yang mendalam dan kepedihan itulah yang akan membuatmu bahagia jika kau mensyukurinya nak.

Nak sadarkah kamu apa yang membuatmu selalu merasa menderita saat ini? Yang selalu membuatmu merasakan penderitaan saat ini hanyalah perasaanmu saja nak, sedangkan kau anak muda, tak pantas jika kau hanya mengikuti perasaan, perasaan yang sekiranya membutakan pandangan dan pikiranmu itu harus kau lawan nak, Bunda tidak pernah mengajarimu bagaimana untuk menjadi seseorang yang lemah, tapi Bunda selalu ajarkan kamu bagaimana menjadi seseorang yang tangguh dan kuat nak, ingat tanggung jawabmu di Dunia ini masih banyak nak, kau masih harus selesaikan semua permasalahan yang sedang kita hadapi bersama, Bunda yakin kamu pasti kuat dan bisa nak.

Nak jika kamu pikir Dunia ini sudah kacau lalu apa yang akan engkau lakukan nak? Apakah kau hanya diam saja melihat dan menikmati kekacauan ini? Tentu tidak boleh begitu nak. Kedamaian tidak boleh diukur oleh berhentinya peperangan semata nak, kedamaian itu harus menyeluruh, harus semua aspek ikut berdamai nak, dan tidak ada cara lain selain menjadikan bumi ini kembali ke pangkuan Agama nak. Lalu kenapa lau tak merasa sedang berada di Tanah Indonesia nak? Bunda mengerti kenapa kamu bilang begitu, karena Tanah Indonesia yang dulu kau kenal sebagai Tanah Islami sekarang sudah jauh dari konsep itu kan? Sekarang sulit nak, karena konsep Islami sudah tidak cocok untuk digunakan di Tanah kita ini, karena apa? Karena konsep Islami kita sudah tidak dipakai lagi.

Siap atau tidak siap jika sudah waktunya tiba kau akan mati jua nak, tak bisa kau beralasan jika kau belum punya bekal apa-apa maka kau tak boleh mati dulu, tidak nak tidak seperti itu. Itulah uniknya Tuhan ciptakan manusia dan tak pernah Dia berikan informasi kapan kita akan mati nak, supaya Tuhan tau mana yang benar-benar setia kepada-Nya dan mana yang membangkang kepada-Nya. Maka sebelum kau temui ajalmu nak, siapkanlah dari sekarang, bukan besok atau nanti nak, tapi mulai sekarang.

Jika selama ini kau telah melalaikan kewajibanmu dan engkau merasa menyesal bertaubatlah nak, mohonlah ampunan kepada-Nya bukan kepada Bundamu ini, karena Bunda tak bisa janjikan apa-apa untuk kehidupan di akhirat nanti nak. Selagi kau masih bisa merasakan penyesalan maka segeralah bertaubat nak sebelum rasa sesal itu hilang sama sekali dan engkau terlalu asik meninggalkan kewajibanmu nak.
Nak, jika ingin menjadi manusia yang lebih baik Bunda rasa itu bukan cita-cita, tapi itu adalah kewajiban bagi setiap manusia nak, kamu harus selalu meningkatkan kualitas diri nak terlebih kualitas keimananmu nak, karena keimananmu adalah senjata yang paling ampuh untuk.menggetarkan musuh-musuhmu di jalan Allah nak. Percayalah, Bunda ingin kau.menjadi orang yang tangguh di jalan Allah nak, engkau lah yang harus membuat kehidupan nanti menjadi lebih baik.

Nak, jika kau ingin kembali, maka kembalilah nak. Kembali berada di barisan terdepan bersama pasukan-pasukan Allah nak, janganlah gentar akan musuh-musuh Allah di dunia ini nak, buktikanlah bahwa kau anak muda yang berani nak. Jika kau ingin tanah ini kembali menjadi tanah Indonesia, maka berjuanglah nak, menjadikan negeri ini lebih baik adalah salah satu jalan berjuang di jalan Allah nak. Kembali kau harus ingat-ingat segala memory indah rasanya berjuang di jalan Allah nak. Percayalah, Allah selalu bersama kita jika kita menginginkannya nak.

Anak itu pun menangis dan tertidur di pangkuan ibunya, esok setelah dia bangun maka dia akan membuat Negeri ini lebih baik dan selalu berada di barisan terdepan untuk menjadi pasukan Allah dan membela Allah sampai dia ucapkan kalimat suci "Tiada Tuhan (yang berhak) disembah kecuali Allah" di penghujung kehidupannya.

Siapapun yang membaca tulisan ini, tolong jadikan "aku" di tulisan diatas sebagai diri kita sendiri atau sesuaikan dengan kehidupan diri kita sendiri.

Kamis, 16 Juli 2015

Idul Fitri 2015...

Bismillah.

Allah telah menjanjikan dua kenikmatan di bulan ramadhan, yang pertama adalah diberinya kita kenikmatan disaat berbuka puasa, kenikmatan itu pun telah kita rasakan bersama bagi siapa pun yang menjalaninya. Dan sekarang kita berharap mudah2an Allah benar2 memberikan kenikmatan yang kedua dari janji-Nya itu kepada kita yaitu bisa bertemu dengan-Nya kelak. Amin.

Sekarang bulan ramadhan akan segera berlalu.
Karena di bulan ramadhan kita dianjurkan untuk berbuat jujur, bukan berarti kita tidak perlu jujur di bulan lainnya.
Karena di bulan ramadhan kita dianjurkan untuk bersabar, bukan berarti di bulan lainnya kita tidak perlu bersabar.
Karena di bulan ramadhan kita dianjurkan untuk bershodaqah, bukan berarti di bulan lainnya tak usah payab bershadaqoh.
Dan masih banyak karena-karena lainnya yang dianjurkan di bulan ramadhan, bukan berarti kita tidak harus mengerjakan apa yang di "karena" kan di bulan ramadhan.

Sungguh hati berbahagia bagi siapa pun yang esok mendapati hari raya idul fitri, dan sungguh pula hati bersedih bagi siapa pun yang esok akan meninggalkan bulan ramadhan, karena kita tak pernah tau apakah kita kan berjumpa kembali dengan bulan yang "suci" ini.

Saat semua menunggu datangnya hari kemenangan, tak lengkap rasanya jika kemenangan itu dibarengi dengan hati yang penuh noda, oleh karena itulah semua orang takkan merasa bosan berucap kata maaf.
Begitu pun saya, tak ada yang lebih istimewa dari makhluk yang notabene "hina" ini selain ucapan atau kata-kata maaf. Namun untuk kali ini saya tidak akan meminta maaf, saya hanya meminta anda sekalian berkata, "saya telah memaafkan anda sebelum anda meminta maaf", begitu pun saya, sebelum anda sekalian meminta maaf saya telah memaafkan anda sekalian, insyaallah.

Tidak ada kalimat yang lebih baik di hari raya ini selain "taqabalallahu minna wa minkum", semoga puasa saya dan anda diterima oleh-Nya sehingga apa yang telah menjadi dosa kita dimaafkan oleh-Nya, amin.

Hatur nuhun.

Rabu, 08 Juli 2015

Ramadhan ini...

Bismillah.

Bulan Ramadhan.. Bulan yang banyak orang berkata bahwa bulan ini penuh berkah, di bulan inilah saatnya kita memperbanyak amal ibadah, dan di bulan ini pula semua pahala akan diganjar berkali2 lipat dan segala dosa (kecil) pun akan senantiasa Allah Swt. berikan ampunan...

Namun untukku bulan Ramadhan tahun ini terasa hampa, karena apa yang seharusnya seorang mukmin lakukan di bulan ini aku tak melakukannya, banyak hal yg aku lewatkan di bulan yang orang lain bilang sangat suci ini, entah apa yang mengganggu pikiranku sehingga aku tak bisa meningkatkan kualitas imanku dari bulan ramadhan yang sebelumnya.

Saat ini aku tersadar bahwa yang selama ini aku pikirkan hanyalah kesenangan2 dunia yang tiada artinya kelak, aku seolah melupakan apa yang seharusnya aku kerjakan sebagai seorang mukmin, disaat orang lain rela mengorbankan jiwa dan raganya sampai bercucuran keringat demi menjaga agama yang seharusnya aku banggakan dan selalu ku perjuangkan, sampai darah mereka pun dikorbankan demi tegaknya Agama yang diridhai Allah Swt. ini..

Tapi aku seolah tertidur dengan pulas, tak mengindahkan apa yang sejatinya keindah yang terindah.

Saat ini aku pun tersadar dan ingin terbangun di kesunyian hidup dan bersujud memohon ampunan kepada-Mu Ya Rabb, ampuni dosa hamba-Mu yang hina ini, yang tak pernah bisa ku hitung berapa banyak aku telah berbuat dosa karena sudah terlalu sering aku berbuat dosa, wmpuni dosa hamba, dosa kedua orang tua hamba, dosa keluarga hamba, dosa saudara hamba, dosa guru2 hamba, dosa semua umat islam yang ada di bumi ini.
Andai kata Engkau berikan kepadaku permintaan, maka aku akan meminta "bahwa apa yang telah Engkau janjikan di bulan ramadhan ini telah aku rasakan, Engkau telah menjanjikam kenikmatan bagi hamba yang berpuasa disaat ia berbuka, dan itu telah ku rasakan, dan permintaanku adalah aku ingin Engkau wujudkan janjimu yang satu dari dua hal tadi yaitu pertemukan aku kelak dengan-Mu, ijinkan aku melihat kesucian wajah-Mu, dan ijinkan aku untuk mendapatkan kenikmatan yang tidak pernah semua orang rasakan di dunia ini Ya Rabb, amin :-)

Seandainya ini adalah Ramadhan yang terakhir untukku, aku rela asal itu yang terbaik untukku dan agamaku, tapi jika yang terbaik untukku dan agamaku adalah engkau ijinkan aku berjumpa dengan Ramadhan kembali, insyaallah akan ku persiapkan Ya Rabb :-D
Dan satu permintaanku yang paling aku ingin rasakan saat ini, itu adalah aku ingin melihat ayahku kembali menjadi ayahku yang sebenarnya, amin yaa rabbal alamin :-)

Kamis, 25 Juni 2015

for "Ghuraba"...


Bismillah.

Ternyata benar kalimat "bahwa hidup di dunia ini sangat singkat", buktinya tak terasa waktu pun berlalu dan kalian pun seakan terpisahkan oleh waktu. Tapi tak apa, ini memang jalan Tuhan. Saya selalu teringat kalimat "bahwa di setiap pertemuan pasti ada perpisahan". Seseorang pernah bilang "jika kau masih hidup di dalam hati seseorang, itu artinya kau tidak pernah mati.", oleh karena itu simpanlah semuanya dalam hatimu masing2 supaya semuanya tidak pernah mati. Saya pernah merasakan manisnya pertemuan dan pahitnya perpisahan, namun untuk kalian saya berpesan semoga pertemuan kalian dan perpisahan kalian semuanya manis.

Selamat untuk kalian yg telah berjuang semaksimal mungkin untuk mencukupi kebutuhan kalian di masa yg akan datang, yg dimana di masa itu kalian benar2 akan hidup sendirian dan berjuang sendirian. Tapi jangan khawatir, seperti apa yg telah disebutkan bahwa jika semuanya disimpan di dalam hati maka semuanya tidak pernah meninggalkan kalian dan kalian tidak akan pernah sendirian.

Jika kemarin saya ucapkan selamat masuk ke dalam kolam, maka sekarang saya ucapkan selamat mengarungi lautan, dan carilah apa yg kalian inginkan dari dahulu, yaitu mutiara yg sangat jarang orang lain memilikinya :-D

Kalian masih tetap keluarga saya, karena apa? Karena saya telah menyimpan kalian di dalam hati.

Untuk kalian, Don't say "goodbye", but "See you again..."

Semoga kalian menjadi benar-benar asing dan tetap menjadi asing...

untuk kalian, si bungsu...


Bismillah.

Apa kabar? Saya harap semuanya baik2 saja.
Saya ucapkan selamat untuk kalian semua. Tinggal hitungan waktu kalian benar2 akan menjadi team yg paling dewasa di sekolah. Kurang dari dua tahun kalian telah menikmati perjalanan hidup kalian di sekolah. Pahit manis perjuangan pun tak terasa telah kalian rasakan. Tak seberapa penting apa yg kalian punya saat ini, tapi yg paling penting adalah proses dua tahun ke belakang yg telah kalian tempuh sehingga kalian pun akan berani mengatakan "saya siap untuk memberikan apa yg saya punya kepada adik saya nanti, walau itu hanya sekedar pengalaman. Tapi saya yakin dari hal yg terkecil itu akan berubah menjadi sesuatu yg lebih besar." saya harap kalian bisa ucapkan itu dalam hati kalian.

Masih ingat dua tahun kemarin kalian masih bersama dengan kami, saat kalian masih menjadi seorang pendengar yg baik, sehingga apa pun yg keluar dari yg lebih dewasa dari kalian kalian ikuti, itu pun hanya hal yg baik saja. Tapi sekarang saatnya kalian unjuk gigi, menunjukan kebolehan masing2 kalian dengan tetap menundukan kepala kalian. Sekarang giliran kalian yg menjadi pembicara yg baik.

Dan masih ingatkah kalian dengan apa yg saya ucapkan berkali2? Jika masih ingat tentu kalian tidak akan lupa akan kalimat "kelas 3 adalah saat dimana kalian memetik hasil dari apa yg telah kalian tanam dan rawat selama dua tahun ke belakang. Untuk kalian, saya ucapkan "selamat memanen!"

Saatnya menyelaraskan antara hati dan pikiran, semoga kalian tetap kompak.
"Berkumpul itu bukan saatnya jaim samasama, tapi saatnya berjuang bersamasama."

Jangan katakan "selamat tinggal" kepada kakak kalian besok, tapi katakan "sampai jumpa lagi..."

Sabtu, 23 Mei 2015

Jauh Tersesat...

Awal dari sebuah perpisahan dengan teman-teman seperjuangan, betapa saya sadari bahwa hidup senantiasa terus berlanjut walau harus berjuang dengan sendirian. Ada satu hal yang paling saya ingat, di bait terakhir kalimat perpisahan itu terdengar kalimat “kemana pun kita melangkah, ingatlah selalu bahwa kita harus pulang dan mengabdi!”

Awalnya semua berjalan sesuai rencana, saya masuk kuliah dan bermimpi untuk mempunyai setidaknya sedikit ilmu untuk mewujudkan apa yang terngiang di dalam telinga pada bait terakhir kalimat perpisahan itu. Berusaha untuk lebih serius mempelajari apa yang tengah digeluti. Alhamdulillah… setelah enam bulan hasilnya cukup dan belum memuaskan. Namun setelah enam bulan itu semuanya berubah…

Saya tidak lagi melanjutkan pendidikan yang selama ini saya cita-citakan… alasannya sederhana, karena saya belum mampu untuk membayar uang semesteran yang nominalnya tidak usah disebutkan. Semua itu bukan karena orang tua saya tidak sanggup untuk membiayai, akan tetapi ini adalah persoalan dari mana dan untuk apa harta yang kita miliki itu… oleh karena itu dalam waktu yang sangat singkat, kehidupan saya pun berubah, mungkin dapat kita bayangkan bagaimana rasanya harus bisa menerima perubahan nasib secepat itu…

Babak baru kehidupan saya pun dimulai…

Saya bukan lagi seorang pelajar yang di dalam benaknya hanya ada tugas untuk belajar belajar dan belajar… saya bukan lagi seorang yang duduk di kelas dan dihadapannya ada buku catatan dan alat tulis… saya bukan lagi seorang yang sahabat sejatinya adalah buku… dan sekarang saya hanyalah seorang pekerja di sebuah yayasan jasa pengamanan… sekarang saya adalah seorang yang ada dibenaknya hanya uang uang dan uang seolah hidup tak akan berjalan jika tak ada uang…
 
Sekarang tak tersisa sedikit pun semangat dalam diri ini untuk kembali melanjutkan pendidikan… yang ada dipikiran hanya bagaimana saya dapat membeli semua apa pun yang saya inginkan… saya kira apa yang sedang saya lakukan sekarang ini adalah benar, namun ternyata semuanya adalah kekeliruan yang nyata… saya hanya diperbudak oleh keinginan yang entah sampai mana batasnya… semuanya sungguh sangat menyedihkan dan memalukan…

Namun dibalik semua itu ada yang lebih menyedihkan dan memalukan… sekarang saya benar-benar merasakan bagaimana jika seekor kambing yang dibiarkan begitu saja berkeliaran di padang rumput yang sangat luas tanpa diikat terlebih dahulu oleh pemiliknya… si kambing itu pun akan terus berjalan selama rumputnya masih ada hingga akhirnya setelah sangat jauh berjalan sambil memakan rumput itu, si kambing pun tersadar bahwa ia sekarang tidak lagi ada di tempatnya berasal, si kambing menyadari bahwa ia sekarang hanya hidup sendiri di tempat yang tidak pernah ia kenal sebelumnya, dan si kambing pun akhirnya menyadari bahwa dirinya telah jauh tersesat dan ia pun tidak pernah mengetahui kemana jalan untuk pulang…

Mungkin si kambing itu sangat tepat merepresentasikan hidup saya saat ini… ketika saya mulai berani untuk melepaskan diri dari ikatan yang telah ditentukan, kemudian keinginan yang begitu besar untuk terus dan terus mengikuti hawa nafsu, hingga akhirnya saya pun menyadari bahwa selama ini saya telah jauh tersesat… hidup sendiri di hutan yang rimba dan tidak pernah tau kemana jalan pulang… kehidupan di hutan membuat saya lebih banyak bergaul dengan binatang yang hanya menggunakan insting dan nafsu untuk mendapatkan apa yang diinginkan tanpa dipikirkan terlebih dahulu oleh akal pikiran yang sehat…

Sekarang setelah sangat lama tersesat di hutan rimba, saya pun menyadari bahwa saya adalah manusia yang sejatinya diberikan keistimewaan dari binatang yaitu akal pikiran… setelah sekian lama barulah saya menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak bisa disamakan antara binatang dengan manusia, dan oleh karena itu tidaklah pantas saya berlama-lama bergaul dengan binatang dan berkelakuan seperti binatang… ingin rasanya kembali bergaul dengan manusia, rindu rasanya bercengkrama dengan manusia dan kembali berkelakuan manusia… namun saya sadar bahwa saya tidak mengetahui kemana jalan pulang, karena untuk bertanya kepada binatang kemana jalan pulang semuanya akan terasa percuma…

Adakah manusia yang rela mengorbankan dirinya masuk ke hutan rimba untuk sekedar membawa saya pulang dan kembali bergaul dengan manusia? Setidaknya akan saya ceritakan kepada manusia itu bagaimana rasanya bergaul bercengkrama dengan binatang dan berkelakuan layaknya binatang, mungkin hanya itu imbalan yang akan saya berikan kepada siapa pun manusia yang berniat untuk membawa saya pulang atau setidaknya keluar dari hutan rimba ini…

Andai kata tidak ada manusia yang menjemput saya, maka satu-satunya cara yang saya harus lakukan adalah berusaha memutar ingatan ketika saya berjalan masuk ke hutan rimba ini, dengan berupaya menghilangkan hawa nafsu yang ketika itu menyeret saya masuk ke hutan rimba ini… saya ingin pulang dengan secepat mungkin alasannya sederhana, karena saya merindukan bagaimana indahnya menjadi manusia…

Senin, 29 Desember 2014

MAKALAH STRATIFIKASI SOSIAL



STRATIFIKASI SOSIAL DALAM MASYARAKAT

MAKALAH

Oleh:
Rianna Buchori
41151010140163







FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LANGLANGBUANA
KOTA BANDUNG
2014 M/ 1435 H

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara yang di dalamnya terdapat keberagaman budaya atau lebih sering dikenal dengan istilah multicultural.Dari keberagaman masyarakat di Indonesia ini tidak jarang membuat beberapa permasalahan sosial yang muncul ke permukaan.Salah satu dari sekian banyaknya permasalahan sosial di Indonesia ini yaitu stratifikasi sosial.
Fenomena dari stratifikasi sosial ini akan selalu ada dalam kehidupan manusia, sesederhana apapun kehidupan mereka, tetapi bentuknya mungkin berbeda satu sama lain, semua tergantung bagaimana mereka menempatkannya. Selama dalam masyarakat itu ada sesuatu yang dihargai, dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargai, maka barang sesuatu itu akan menjadi bibit yang dapat menumbuhkan adanya sistem yang berlapis-lapis dalam masyarakat itu.
Suatu pelapisan dalam masyarakat ini tidak selamanya berdampak negatif. Di satu sisi, pelapisan dalam masyarakat ini akan memunculkan beragam konflik dalam masyarakat, akan tetapi di sisi lain pelapisan dalam masyarakat juga bisa memberikan dampak positif yaitu bahwa dengan adanya pelapisan sosial dalam masyarakat ini akan membuat masyarakat yang merasa hidupnya dibawah garis kemiskinan bisa menjadi lebih bersemangat untuk menaikkan taraf kehidupannya.
Melihat fenomena diatas, penulis terinspirasi untuk mengkaji lebih dalam tentang masalah itu, yang dituangkan dalam sebuah makalah ini dengan memberi judul “STRATIFIKASI SOSIAL DALAM MASYARAKAT”. Penulis berharap apa yang penulis bahas dalam makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang tentunya dapat diteladani bersama.

B.   Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penyusunan makalah ini guna untuk membatasi pembahasan yang akan penulis bahas, adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana pengertian dari Stratifikasi Sosial?
2.    Bagaimana dasar timbulnya Stratifikasi Sosial?
3.    Bagaimana permasalahan Stratifikasi Sosial dalam kehidupan masyarakat?

C.   Tujuan dan Kegunaan
1.    Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan penulis dalam penyusunan makalah ini diantaranya sebagai berikut:
a.    Untuk mengetahui pengertian dari Stratifikasi Sosial.
b.    Untuk mengetahui dasar timbulnya Stratifikasi Sosial.
c.    Untuk mengetahui permasalahan Stratifikasi Sosial dalam kehidupan masyarakat.
2.    Kegunaan
Serta yang menjadi kegunaan dalam penyusunan makalah ini diantaranya sebagai berikut:
a.    Untuk menambah wawasan penulis tentang pengertian stratifikasi sosial serta permasalahan yang berkembang di dalam masyarakat.
b.    Untuk memberikan informasi baru tentang apa yang penulis bahas.




TINJAUAN TEORITIS

A.   Pengertian Stratifikasi Sosial.
Pada zaman kuno dahulu, filsuf Aristoteles (Yunani) mengatakan di dalam negara terdapat tiga unsur, yaitu mereka kaya sekali, melarat, dan berada di tengah-tengahnya.Ucapan demikian paling tidak membuktikan bahwa di zaman itu, dan sebelumnya, orang telah mengakui adanya lapisan masyarakat yang mempunyai kedudukan bertingkat-tingkat dari bawah ke atas.Seorang sosiolog terkemuka, yaitu Pitirim A. Sorokin, pernah mengatakan bahwa sistem lapisan merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur.Barang siapa memiliki sesuatu yang berhargadalam jumlah yang sangat banyak dianggap masyarakat berkedudukan dalam lapisan atasan.Mereka yang hanya sedikit sekali atau atau tidak memiliki sesuatu yang berharga dalam pandangan masyarakat mempunyai kedudukan yang rendah.
Di antara lapisan yang atasan dan yang rendah itu, ada lapisan yang jumlahnya dapat ditentukan sendiri oleh mereka yang hendak mempelajari sistem lapisan masyarakat itu. Biasanya golongan yang berada dalam lapisan atasan tidak hanya memiliki satu macam saja dari apa yang dihargai oleh masyarakat, tetapi kedudukannya yang tinggi itu bersifat kumulatif. Mereka yang memiliki uang banyak akan mudah sekali mendapat tanah, kekuasaan dan mungkin juga kehormatan, sedangkan mereka yang mempunyai kekuasaan besar mudah menjadi kaya dan mengusahakan ilmu pengetahuan.
Sistem lapisan dalam masyarakat tersebut dalam sosiologi dikenal dengan social stratification.Kata stratification berasal dari stratum (jamaknya: strata yang berarti lapisan). Pitirim A. Sorokin menyatakan bahwa social stratification adalah pembedaaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis).Perwujudannya adalah kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah.Selanjutnya menurut Sorokin, dasar dan inti lapisan dalam masyarakat tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak dan kewajiban, dan tanggung jawab nilai-nilai sosial pengaruhnya diantara anggota-anggota masyarakat (Soekanto 2012: 197-198).
Berikut ini beberapa pendapat para ahli lainnya mengenai stratifikasi sosial :
a.    P.J. Bouman
Stratifikasi sosial adalah golongan manusia dengan ditandai suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa yang tertentu dan karena itu menuntut gengsi kemasyarakatan.

b.    Soerjono Soekanto
Stratifikasi sosial adalah pembedaan posisi seseorang atau kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertikal
c.    Bruce J. Cohen
Stratifikasi sosial adalah sistem yang menempatkan seseorang sesuai dengan kualitas yang dimiliki dan menempatkan mereka pada kelas sosial yang sesuai.
d.    Paul B. Horton dan Chester L. Hunt
Stratifikasi sosial adalah sistem perbedaan status yang berlaku dalam suatu masyarakat (http://nurfadhilahtia94.wordpress.com/tag/penggolongan-dan-stratifikasi-sosial-di-indonesia/).
B.   Dasar Stratifikasi Sosial
Di antara lapisan atasan dengan yang terendah, terdapat lapisan yang jumlahnya relative banyak. Biasanya lapisan atasan tidak hanya memiliki satu macam saja dari apa yang dihargai oleh masyarakat.Akan tetapi, kedudukannya yang tinggi itu bersifat kumulatif. Artinya, mereka yang mempunyai uang banyak akan mudah sekali mendapatkan tanah, kekuasaan dan mungkin juga kehormatan. Ukuran atau kriteria yang biasa dipakai untuk menggolong-golongkan anggota-anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan adalah sebagai berikut:
1.    Ukuran kekayaan
Barangsiapa yang memiliki kekayaan paling banyak termasuk dalam lapisan teratas.Kekayaan tersebut, misalnya dapat dilihat pada bentuk rumah yang bersangkutan, mobil pribadinya, cara-caranya mempergunakan pakaian yang dipakainya, kebiasaan untuk berbelanja barang-barang mahal dan seterusnya.
2.    Ukuran kekuasaan
Barangsiapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar menempati lapisan teratas.
3.    Ukuran kehormatan
Ukuran kehormatan tersebut mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan/atau kekuasaan.Orang yang paling disegani dan dihormati, mendapat tempat yang teratas.Ukuran semacam ini, banyak dijumpai pada masyarakat-masyarakat tradisional.Biasanya mereka adalah golongan tua atau mereka yang pernah berjasa.
4.    Ukuran ilmu pengetahuan
Ukuran ilmu pengetahuan sebagai ukuran dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.Akan tetapi, ukuran tersebut kadang-kadang menyebabkan terjadinya akibat-akibat negatif karena ternyata bahwa bukan mutu ilmu pengetahuan ilmu yang dijadikan ukuran, tetapi gelar kesarjanaannya.Sudah tentu hal yang demikian memacu segala macam usaha untuk mendapat gelar, walau tidak halal.
            Ukuran di atas tidaklah bersifat limitative karena masih ada ukuran-ukuran lain yang dapat digunakan.Akan tetapi, ukuran-ukuran diatas dapat menentukan sebagai dasar timbulnya sistem lapisan dalam masyarakat tertentu (Soekanto 2012: 207-208).
PEMBAHASAN

Permasalahan Stratifikasi Sosial dalam Masyarakat
Dari beberapa penjelasan sebelumnya, stratifikasi atau lapisan sosial dalam masyarakat sudah barang tentu akan menimbulkan beberapa permasalahan yang muncul dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, dirasa perlu adanya analisa seputar masalah yang disebabkan stratifikasi sosial dalam masyarakat. Berikut adalah salah satu artikel yang berbicara mengenai permasalahan stratifikasi sosial dalam masyarakat:
Stratifikasi Sosial di Indonesia
Indonesia merupakan bangsa yang memiliki karakteristik masyarakat yang majemuk.Kemajemukan tersebut yang menghasilkan adanya stratifikasi sosial atau pengelompokan suatu masyarakat ke dalam tingkatan-tingkatan tertentu secara vertikal.Stratifikasi sosial sebenarnya sudah ada sejak jaman Indonesia di jajah oleh Belanda dan Jepang.Koloni mengelompokkan masyarakat Indonesia ke dalam golongan-golongan tertentu sesuai dengan rasnya.Akan tetapi di jaman sekarang, stratifikasi sosial tidak lagi dikelompokkan berdasarkan ras.Stratifikasi sosial di Indonesia lebih mengarahkan penggolongan suatu masyarakat yang dinilai dari segi status sosialnya seperti jabatan, kekayaan, pendidikan atau sistem feodal pada masayarkat Aceh dan kasta pada masyarakat Bali. Sedangkan ras, suku, klan, budaya, agama termasuk ke dalam penggolongan secara horizontal.
Terdapatnya masyarakat majemuk di Indonesia tidak serta muncul begitu saja, akan tetapi karena faktor-faktor seperti yang dijelaskan dalam artikel Nasikun (1995) yaitu, pertama keadaan geografis yang membagi Indonesia kurang lebih 3000 pulau. Hal tersebut yang menyebabkan Indonesia memiliki suku budaya yang banyak seperti Jawa, Sunda, Bugis, Dayak, dan lain-lain.Kedua ialah Indonesia terletak di antara Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik yang mneyebabkan adanya pluralitas agama di dalam masyarakat Indonesia seperti Islam, Kristen, Budha, dan Hindu. Dan ketiga ialah iklim yang berbeda-beda dan struktur tanah yang tidak sama yang menyebabkan perbedaan mata pencaharian antar wilayah satu dengan wilayah lainnya. Sehingga hal tersebut pula dapat membedakan moblitas suatu masyarakat satu dengan masyarakat lainnya dalam kondisi wilayah yang berbeda.
Kemudian Pierre L. van den Berghe dalam artikel Nasikun (1995) menyebutkan karaktistik dari masyarakat majemuk ialah (1) Terjadinya segmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang memiliki sub-kebudayaan yang berbeda satu sama lain, (2) Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer, (3) Kurang mengembangkan konsensus di antara anggota masyarakat tentang nilai-nilai sosial yang bersifat dasar, (4) Secara relatif, seringkali terjadi konflik di antara kelompok satu dengan kelompok lainnya, (5) Secara relatif, integrasi sosial tumbuh di atas paksaan dan saling ketergantungan di dalam bidang ekonomi, (6) Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok lainnya.
Masyarakat majemuk tentu rentan terhadap adanya konflik.Hal tersebut dikarenakan etnosentrisme suatu kelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat yang lainnya. Hal tersebut dirasa wajar mengingat terdapat banyaknya suku budaya yang ada di Indonesia yang masing-masing dari suku tersebut merasa bahwa sukunya lebih dominan dari suku lain. Seperti pernyataan dari pendekatan konflik, bahwa masyarakat majemuk terintegrasi di atas paksaan dari suatu kelompok yang lebih dominan dan karena ada saling ketergantungan antar kelompok dalam hal ekonomi (Nasikun 1995, 64). Kelangsungan hidup suatu masyarakat Indonesia tidak saja menuntut tumbuhnya nilai-nilai umum tertentu yang disepakati bersama oleh sebagian besar orang akan tetapi lebih daripada itu nilai-nilai umum tersebut harus pula mereka hayati melalui proses sosialisasi (Nasikun 1995, 65). Sehingga dari proses sosialisasi yang ditanamkan sejak dini, dapat mengurangi resiko konflik antar masyarakat dalam pandangan yang etnosentris (http://nurfadhilahtia94.wordpress.com/tag/penggolongan-dan-stratifikasi-sosial-di-indonesia/).
Artikel diatas merupakan sebuah contoh dimana stratifikasi sosial dapat memunculkan sebuah permasalahan atau gejolak dalam masyarakat.Permasalahan diatas membicarakan tentang keberagaman budaya dapat menyebabkan konflik yang didasari oleh pandangan etnosentrisme atau keinginan untuk membuat suku budayanya masing-masing lebih unggul daripada suku budaya yang lainnya. Tujuannya adalah bahwa suku budaya yang mereka diam di dalamnya supaya mendapat tempat setahap lebih atas dari suku budaya lain.
Dalam konteks Indonesia, permasalahan diatas sebenarnya tidak perlu terjadi karena sejatinya Indonesia memiliki sebuah dasar negara yaitu Pancasila.Pancasila mengajarkan bahwa setiap masyarakatnya harus bersatu seperti yang termaktub dalam sila ketiga yaitu “Persatuan Indonesia”.
Dalam sila Persatuan Indonesia terkandung nilai bahwa negara adalah sebagai penjelmaan sifat kodrat manusia monodualis yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.Negara adalah merupakan suatu persekutuan hidup bersama di antara elemen-elemen yang membentuk negara yang berupa, suku, ras, kelompok, golongan maupun kelompok agama.Oleh karena itu perbedaan adalah merupakan bawaan kodrat manusia dan juga merupakan ciri khas elemen-elemen yang membentuk negara.Konsekuensinya negara adalah beraneka ragam tapi satu, mengikatkan diri dalam suatu persatuan yang dilukiskan dalam suatu seloka Bhinneka Tunggal Ika.Perbedaan bukannya untuk diruncingkan menjadi konflik dan permusuhan, melainkan diarahkan pada suatu sintesa yang saling menguntungkan yaitu persatuan dalam kehidupan bersama untuk mewujudkan tujuan bersama (Kaelan 2010: 81).
Selain sila Persatuan, di dalam Pancasila juga terdapat sila Kemanusiaan.Dalam sila kemanusiaan terkandung nilai-nilai bahwa negara harus menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang beradab.Oleh karena itu dalam kehidupan kenegaraan terutama dalam peraturan perundang-undangan negara harus mewujudkan tercapainya tujuan ketinggian harkat dan martabat manusia, terutama hak-hak kodrat manusia sebagai hak dasar (hak asasi) harus dijamin dalam peraturan perundang-undangan negara.Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah mengandung suatu kesadaran sikap moral dan tingkah laku manusia yang didasarkan pada potensi budi nurani manusia dalam hubungan dengan norma-norma dan kebudayaan pada umumnya baik terhadap diri sendiri, terhadap sesama manusia maupun terhadap lingkungannya.Nilai kemanusiaan yang beradab adalah perwujudan nilai kemanusiaan sebagai makhluk bermoral dan beragama (Kaelan 2010: 80).
Jika dilihat dari perspektif agama, stratifikasi sosial atau lapisan masyarakat mempunyai beberapa interpretasi dari masing-masing agama.Agama Islam misalnya, di dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menjelaskan tentang lapisan masyarakat. Seperti ayat yang berbunyi: “Hai manusia! Sesungguhnya, Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di sisi Allah ialah oran yang paling bertakwa. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Q.S. Al-Hujurat:13).
Dari ayat diatas, jelas bahwa yang membuat manusia mulia di sisi Allah bukanlah orang-orang yang mempunyai harta yang banyak, kekuasaan yang tinggi, atau pendidikan yang tertinggi, melainkan orang-orang yang bertakwa.
Berbeda halnya dengan agama Hindu, tanpa berpretensi jelek terhadap agama Hindu yang mengakui eksistensi sistem kasta, hal ini jelas merupakan suatu masalah moral yang besar.Yang tidak secara eksplisit membedakan stratifikasi sosial. Mengapa, umpamanya, seorang Brahmana yang malas dan mungkin tidak berguna memperoleh martabat sosial yang paling tinggi, sedangkan seorang Sudra atau seorang yang tak berkasta tapi jujur dan rajin tidak hanya dipisahkan dalam hubungan kerjanya, tetapi juga ditolak oleh masyarakat dan tidak diperkenankan menjalankan hal-hal yang berhubungan dengan upacara keagamaan tertentu (Kahmad 2009: 157).





















PENUTUP

A.   Kesimpulan
Dari pembahasan yang penulis bahas, maka dari itu penulis dapat menyimpulkan, diantaranya:
1.    Stratifikasi sosial adalah sistem lapisan dalam masyarakat yang bertingkat secara vertical, yang menempatkan seseorang sesuai dengan kualitas yang dimiliki dan menempatkan mereka pada kelas sosial yang sesuai.
2.    Dasar-dasar dalam stratifikasi sosial merupakan ukuran seseorang dalam menempatkan dirinya sesuai dengan kelasnya. Ukuran-ukuran tersebut diantaranya adalah kekayaan, kekuasaan, kehormatan, dan ilmu pengetahuan.
3.    Permasalahan di Indonesia yang disebabkan oleh stratifikasi sosial ternyata cukup banyak, salah satunya adalah konflik antar suku budaya yang disebabkan oleh pandangan etnosentrisme.

B.   Saran
1.    Stratifikasi sosial harus disikapi dengan bijak, karena menurut hemat penulis stratifikasi sosial tidak selamanya berdampak negative.
2.    Permasalahan yang disebabkan oleh stratifikasi sosial sudah tentu tidak boleh tumbuh dan berkembang di Indonesia karena tidak sesuai dengan nilai Pancasila dan nilai Agama.





DAFTAR PUSTAKA

Kaelan.(2010). Pendidikan Pancasila.Yogyakarta.Paradigma.
Kahmad, Dadang. (2009). Sosiologi Agama.Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.
Soekanto, Soerjono. (2012). Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta. Rajawali Pers.